
Di pusat galaksi kita terdapat Sagittarius A-Star, sebuah tempat di perbatasan konstelasi Sagittarius dan Scorpius yang dipercaya menjadi rumah bagi sebuah Super Massive Black Hole atau lubang hitam raksasa dengan ukuran mencapai empat juta kali matahari.
Meskipun banyak fakta ilmiah yang memperkuat prediksi itu, masih banyak yang meragukan keberadaan lubang hitam tersebut. Tidak heran, karena sebelumnya keberadaan lubang hitam memang masih berupa teori.
Namun, hal tersebut justru memicu perlombaan di kalangan ilmuan untuk menjadi yang pertama yang berhasil membuktikan keberadaan lubang hitam raksasa di pusat galaksi lewat observasi langsung.
Perlombaan di Atacama
Sebagai salah satu tempat terkering di bumi, Gurun Atacama di Chile menjadi lokasi yang sangat baik untuk melakukan observasi luar angkasa. Bahkan di lokasi sebaik itu, satu teleksop canggih saja tidak akan cukup untuk mengamati lubang hitam raksasa. Anda memerlukan teleskop raksasa juga dan tidak cukup satu. Di Atacama, European Southern Observatory (ESO) punya sampai empat VLT (Very Large Telescope) yang diarahkan ke pusat galaksi.
“Kita berada di pinggiran galaksi dengan jarak terhadap pusatnya mencapai 30.000 tahun cahaya tapi kita masih tetap dapat mengamati pusat galaksi dengan baik,” kata Oliver Pfuhl, ahli astronomi dari Institut Max Planck.
Very Larget Telescope (VLT). Sumber: Wikipedia
Dengan ke-empat VLT tersebut, ahli astronomi seperti Oliver mencoba mempelajari pusat galaksi menggunakan metode yang dikenal dengan Interferometry. Biasanya, kemampuan teleskop bergantung kepada seberapa banyak cahaya yang dapat ditangkap oleh permukaan lensa cerminnya. Semakin luas lensanya semakin banyak cahaya yang dapat ditangkap. Kalau hanya dengan satu teleskop, kita butuh lensa yang punya diameter hingga seratus meter untuk dapat melihat ke pusat galaksi. Teleskop sebesar itu secara teknis sulit untuk dibuat. Dengan metode Interferometry, ilmuwan akan mengombinasikan gambar yang diperoleh oleh ke-empat VLT lewat komputer, sehingga seolah-olah sedang menggunakan satu teleskop berdiameter seratus meter.
“Kita menggunakan sifat dasar cahaya, sehingga dapat menghasilkan gambar dengan resolusi hampir sebaik yang dapat diperoleh oleh teleskop berdiameter seratus meter,” lanjut Oliver.
Empat VLT dengan Interferometry memungkinkan ilmuwan untuk mengamati aktivitas di pusat galaksi. Mereka mencari petunjuk keberadaan lubang hitam dengan mencari pergerakan cahaya yang anomali.
“Lubang hitam bukan berarti selalu gelap. Kita juga dapat melihat kilat dan cahaya. Kami yakin jika kita dapat menemukan pergerakan cahaya yang terisap kedalam lubang hitam, kita hampir menemukan lubang hitam-nya,” jelas Oliver.
Peta Galaksi Bimasakti. Sumber: NASA
Menurut Oliver, penemuan lubang hitam juga dapat membantu fisikawan untuk membuktikan teori relativitas umum. Teori yang diajukan oleh Albert Einstein itu memang memerlukan lingkungan se-ekstrim lubang hitam untuk pengujiannya.
Selain ke-empat VLT yang tampak seperti berdiri sendiri di gurun entah berantah itu, sebenarnya tidak jauh dari sana terdapat 66 antena raksasa bernama ALMA. Radio teleskop super sensitive itu dapat menjangkau wilayah pengamatan yang jauh lebih luas, lebih dalam dan lebih jauh dibandingkan ke-empat VLT. Hanya saja gambar yang diperoleh tidak visual, melainkan rekaman berbagai gelombang radio, termasuk yang berada di dalam lubang hitam.
“Interferometry tidak dapat melihat aktivitas di dalam lubang hitam karena memang tidak dapat dilihat. ALMA bagaikan membuka jendela karena dapat melihat apa yang terjadi di dalam lubang hitam,” Gianni Marconi, Pengawas ALMA.
Namun, infrastruktur sebesar ALMA dan VLT akan terlihat kecil dibandingkan project Event Horizon Telescope (EHT). Komunitas ilmuwan ingin mengombinasikan semua informasi yang diperoleh oleh seluruh teleskop optikal seperti VLT dan teleskop radio seperti ALMA di seluruh dunia, sehingga seakan-akan kita akan memiliki teleskop sebesar planet.
Project yang dimulai sejak 2015 itu akhirnya berhasil mengamati keberadaan event horizon, sebuah wilayah dimana cahaya tiba-tiba menghilang, di Saggitarius A-Star. Sebuah bukti kuat akan keberadaan lubang hitam raksasa di pusat galaksi Bima Sakti.
Sumber: Seekr.com
Comments
Post a Comment